MENGENALI KECERDASAN DENGAN ESQ
Posted on 31-01-2012 by. M. Fatah Tim RSUA
alam buku “Executive EQ, Kecerdasan Emosional Dalam Kepemim-pinan Dan Organisasi” karya Robert K. Cooper, PhD., dan Ayman Sawaf, dijelas-kan ada satu rantai manajemen yang hilang saat ini, di mana para eksekutif dan manajer harus bekerja tidak hanya berda-sarkan kecerdasan otak semata, namun dituntut gabung juga kepiawaian menjadi mentor, sahabat, sekutu, dan pengawal sekaligus, yang selalu sadar akan kebutuh-an organisasi dan kepentingan sebagai pribadi. Namun sayang, hal ini terasa masih gelap. Padahal inilah keping pen-ting, yang dinamakan kecerdasan emosional.
Pemimpin Adalah Guru
“Guru itu membuat orang bodoh menjadi pintar”. Tugas eksekutif dan manajer pada organisasi yang dipimpinnya adalah seperti seorang guru. Seorang kar-yawan yang baru lulus dari sebuah universitas belum tentu menguasai keseluruhan job description yang diberikan kepadanya. Gawatnya, ada manajer atau eksekutif yang langsung menghakiminya, bahwa anak buahnya tidak mampu bekerja. Padahal kita sama sekali belum memberikan bimbingan bagaimana seharusnya pekerjaan itu dilaksanakan. Bimbingan yang baik adalah seperti seorang guru yang sabar menghadapi murid-muridnya. Berikan bimbingan satu-dua kali sampai anak buah kita itu betul-betul mengerti melakukan tugasnya. Hal ini perlu disadari oleh eksekutif atau manajer yang biasanya merasa terlalu sibuk, sehingga selalu merasa “tidak sempat (atau tidak mau)” memberikan “transfer of knowledge”. Jujur saja, banyak eksekutif di sekitar kita yang tidak memberikan ilmunya hanya karena takut anak buahnya menjadi lebih pintar. Apakah falsafah seorang guru demikian? Tentu bukan ! Menjadi kebang-
kebera aan seorang guru, apabila muridnya menjadi orang pintar.
Belajar Tidak Kenal Waktu
Seorang eksekutif dan manajer yang baik, tidaklah pernah berhenti belajar. Peter Drucker pun pernah menyatakan bahwa organisasi modern yang sehat adalah organisasi di mana staff dan manajernya bersedia terus-menerus belajar. Belajar tidak harus diartikan secara harfiah, memasuki ruang kelas dan berhadapan dengan guru, membuat catat-an, ujian, dan sebagainya. Tetapi dapat diartikan membuka diri untuk wawasan baru melalui pelatihan interaktif, seminar, membaca buku, atau pun surving di internet untuk mendapatkan informasi-informasi baru.
Sifat mau belajar sangat perlu dimiliki saat ini, mengingat perubahan yang begitu cepat. Perubahan dari era industri ke era teknologi informasi mulai terasa melanda Indonesia. Apabila perubahan-perubahan semacam ini tidak kita pelajari, maka kita akan ketinggalan, khususnya dalam menghadapi persaingan dengan kompetitor internasional. Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, satu langkah kemenangan di tangan kita.
Kemauan belajar harus terus-menerus didorong oleh organisasi / perusahaan yang baik. Beberapa contoh-nya adalah dengan mengalokasikan budget yang cukup untuk pengembangan pelatihan, pengembangan informasi, dan perpustakaan kantor. Dorongan semacam ini pasti berdampak positif bagi lingkung-an perusahaan. Selain produktivitas kerja SDM yang meningkat, corporate image juga ikut terkerek naik.
Menjadi Panutan
Menjadi teladan adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksana-kan. Banyak eksekutif dan manajer yang karena merasa sebagai pimpinan, seenaknya masuk kantor alias tidak disiplin. Anak-anak buahnya dilarang keras meninggalkan kantor pada jam kerja, tetapi pimpinan boleh meninggalkan kantor seenaknya. Bahkan untuk kepen-tingan pribadi seperti jual-beli saham di Bursa Efek.
Pemimpin lainnya melakukan diskusi tentang perlunya perubahan gaya kepemimpinan di organisasi dari otoriter menjadi demokrat. Padahal semua orang di kantornya tahu, bahwa dia sendiri adalah orang yang paling otoriter. Bagaimanakah seorang bawahan bisa menjadi respek kepada atasannya, apabila di kantornya dilarang melakukan KKN, sedangkan semua orang tahu, bahwa atasannya adalah pelaku KKN. Penyakit “merasa paling benar” yang katanya sekarang banyak menghinggapi para birokrat Indonesia, ternyata mulai menjalar ke organisasi bisnis.
Bersyukur Senantiasa
Bersyukur senantiasa akan rahmat dan berkat yang diterima dari Nya setiap hari akan membuat hidup kita lebih positif. Dari pada setiap hari kita mempersoalkan mengapa orang lain penghasilannya jauh lebih baik dari kita. Berlaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, akan membuat hidup ini lebih indah.
Pikiran-pikiran negatif tanpa ucapan syukur akan membuat kita lupa, bahkan akan terjerumus untuk melakukan hal-hal negatif. Iri hati kepada teman yang naik pangkat lebih cepat dari kita. Kecewa karena ternyata Manajer lain digaji lebih besar dari kita. Perasaan diperlakukan tidak adil membuat kita makin kecewa dan menumpuk penyakit stres setiap hari. Akibatnya, secara fisik tubuh kita rentan akan penyakit, karena secara mental kita lemah dan tidak bersemangat. Produktivitas kita lambat laun akan menurun dan dimata pimpinan, kita memang pantas diperlakukan sebagai “Deadwood”.
Lupakan kata “seandainya” yang sering muncul dalam pikiran kita. Lupakan kita pernah gagal. Tetapi bersyukurlah bahwa Tuhan masih memberikan kita kesempatan hidup di dunia untuk memberi makna / arti dalam kehidupan ini.
Kata Bijaksana Edisi ini :
“ Kegagalan harus diterima sepanjang dilakukan dalam rangka membuat inovasi secara jujur dan bijaksana. Kegagalan merupakan guru terbaik.” ( Tan Sri Abdul Halim Ali )